LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I

NAMA : DIANA SARI
NIM : A1C118096
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
KIMIA ORGANIK I

NAMA : DIANA SARI
NIM : A1C118096
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
VII. DATA
PENGAMATAN
A. KALIBRASI
TERMOMETER
NO.
|
PERLAKUAN
|
HASIL
PENGAMATAN
|
1.
|
Bubuk + Air
(250 mL) 2/5 bagian volume
|
Mencair dan
tercampur dengan air
|
2.
|
Dimasukan
termometer dan disumbat dibagian mulut labu
|
Suhu 00C
|
3.
|
Diulang
percobaan
|
Batas suhu didapatkan
00C
|
4.
|
2/5 bagian
erlenmeyer diisi air
|
|
5.
|
Dimasukkan
termometer 1 cm diatas permukaan
|
Suhu Awal
didpatkan 230C
|
6.
|
Dipanaskan
|
Suhu berubah
menjadi 1000C
|
B. PENENTUAN
TITIK LELEH
NO
|
CAMPURAN 2
SENYAWA
|
Senyawa Murni
|
1 : 1
|
1 : 3
|
3 : 1
|
||||
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
T1
|
T2
|
||
1.
|
Naftalen
|
780C
|
840C
|
||||||
Naftalen + Glukosa
|
1000C
|
1480C
|
1480C
|
1550C
|
1300C
|
1460C
|
|||
2.
|
Glukosa
|
1200C
|
160,70C
|
||||||
Glukosa + β – Naftol
|
1300C
|
1400C
|
1460C
|
1500C
|
1380C
|
1490C
|
|||
3.
|
β – Naftol
|
1050C
|
1150C
|
||||||
β – Naftol + Asam Benzoat
|
880C
|
920C
|
900C
|
1030C
|
850C
|
1200C
|
|||
4.
|
Asam Benzoat
|
980C
|
1400C
|
||||||
Asam Benzoat + Maltosa
|
1100C
|
1200C
|
1000C
|
1550C
|
970C
|
1350C
|
|||
5.
|
Maltosa
|
1050C
|
1070C
|
||||||
Maltosa + Naftalen
|
1200C
|
1220C
|
1100C
|
1140C
|
1130C
|
1150C
|
|||
C. DEMONSTRASI
TITIK LELEH DENGAN MPA (Melting Point
Apparatus)
No
|
Nama
Senyawa
|
Titik
leleh yang diperoleh
|
1.
|
Naftalen
|
85°C
- 100°C
|
2.
|
Glukosa
|
160,72°C
- 180°C
|
3.
|
Beta-naftol
|
110°C
- 115°C
|
4.
|
Asam benzoat
|
115°C
- 120°C
|
5.
|
Maltosa
|
90°C
- 102°C
|
VIII.
PEMBAHASAN
8.1. Kalibrasi
termometer
Pada percobaan yang
pertama ialah pengkalibrasian termometer terlebih dahulu. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apakah termometer masih dalam keadaan baik atau tidaknya untuk
digunakan. Karena termometer merupakan alat yang paling sering dipakai untuk
mengukur suatu kondisi. Pengkalibrasian termometer dilakukan dengan menggunakan
es yang dicampur dengan air yang kemudian suhunya diukur dengan termometer,
termometer yang digunakan praktikan ialah termometer raksa. Es diletakkan
kedalam tabung erlenmeyer yang sudah diberi penyumbat agar keadaan pada saat
pengkalibrasian dalam keadaan terisolasi. Dilakukan hingga suhu konstan dan
tidak berubah-ubah lagi, hasil yang didapatkan pada pengkalibrasian dengan
menggunakan es yaitu 0ᴼC.
Kemudian pengkalibrasian
termometer dilanjutkan dengan menggunakan air yang didihkan. Dilakukan hal yang
sama yaitu dengan meyumbat atau membuat pengkalibrasian dalam keadaan
terisolasi. Hingga suhu yang didapatkan konstan, dan didapatkan hasil pada suhu
termometer yaitu mencapai 100ᴼC. Air memiliki titik beku 0ᴼC dan titik didih
100ᴼC, maka dapat dikatakan termometer dalam keadaan baik untuk digunakan.
8.2. Penentuan
titik leleh
Pada penentuan titik leleh senyawa yang digunakan
ialah Naftalen, Glukosa, β – Naftol, Asam Benzoat, dan Maltosa.percobaan
pertama yang dilakukkan ialah pada
senyawa naftalen murni suhu yang didapatkan untuk mencapai titik lelehnya yaitu
dengan suhu awal dan akhir (78ᴼC-84ᴼC). lalu campuran naftalen dengan glukosa
dengan berbagai permabandingan, pada perbandingan 1:1 suhunya (100ᴼC-148ᴼC),
perbandingan 1:3 (148ᴼC-155ᴼC), sedangkan dengan perbandingan 3:1 yaitu (130ᴼC-146ᴼC).
Selanjutnya dilakukan
dengan senyawa Glukosa, pertama yaitu pada glukosa murni (120ᴼC-160,7ᴼC), lalu
campurab glukosan dengan β – Naftol dengan perbandingan 1:1 (130-140)ᴼC,
perbandingan 1:3 (146-150)ᴼC, lalu dengan perbandingan 3:1 (138-149)ᴼC. Kemudian
pengujian titik leleh dilakukan dnegan menggunakan senyawa β – Naftol murni
(105-115)ᴼC, lalu campuran β – Naftol dengan asam benzoat dengan perbandingan
1:1 (88-92)ᴼC, perbandingan 1:3 (90-103)ᴼC, pebandingan 3:1 (85-120)ᴼC.
Kemudian dengan
menggunakan senyawa asam benzoat murni (98-140)ᴼC, lalu dicampur dengan maltosa
dengan berbagai perbandingan. Yaitu 1:1 (110-120)ᴼC, perbandingan 1:3 (100-155)ᴼC,
dan 3:1 (97-135)ᴼC. Dan yang terakhir ialah dengan menggunakan senyawa maltosa
murni (105-107)ᴼC, lalu dengan naftalen dengan perbandingan 1:1 (120-122)ᴼC,
perbandingan 1:3 (110-114)ᴼC, lalu dengan perbandingan 3:1 (113-115)ᴼC.
8.3. Demonstrasi
titik leleh dengan MPA (melting point
apparatus)
MPA merupakan alat yang
digunakan untuk penentuan titik leleh senyawa. Pipa kapiler yang berisi sampel
dimasukkan kedalam tempat atau lubang kecil bagian atas pada MPA. Lalu MPA
diaktifkan, dan dimulai dengan penaikan suhu secara perlahan. Terdapat kaca
kecil untuk melihat sampel apakah sudah meleleh atau belum. Sampel yang kami
gunakan pada percobaan ini yaitu Naftalen, Glukosa, β – Naftol, Asam Benzoat,
dan Maltosa. Pada naftalen mulai meleleh pada suhu 85ᴼC dan meleleh secra
keseluruhan pada suhu 100ᴼC, glukosa pada suhu 160,72°C dan berakhir pada suhu 180°C. β
– Naftol mulai melelh pada suhu 110°C dan berakhir pada suhu 115°C.
asam benzoat mulai meleleh pada suhu 115°C berakhir pada suhu 120°C. dan pada
maltosa mulai melelh pada suhu 90°C dan berakhir pada suhu 102°C.
IX.
PERTANYAAN PASCA PRAKTIKUM
1. Mengapa
pada percobaan titik leleh maltosa yang dicampur dengan naftalen menggunakan
minyak sebagai pengganti air?
2. Apa
yang akan terjadi jika pada saat senyawa yang dimasukkan pada pipa kapiler
tidak turun pada bagian dasar pipa kapiler?
3. Mengapa
pada saat penentuan titik leleh dengan menggunakan MPA suhu yang didapatkan
berbeda dengan suhu pada termometer?
X.
MANFAAT
Dengan dilakukannya percobaan ini,
praktikan mengerti ataupun memahami cara menggunakan MPA (Melting Point Apparatus). Serta mengetahu tanda senyawa tersebut
murni atau tidaknya dilihat dari titik leleh pada senyawa itu. Paraktikan juga
mengerti bgaimana cara mengkalibrasi termometer dan juga pentingnya
mengkalibrasi termometer tersebut.
XI.
KESIMPULAN
1. Prinsip
dasar penentuan titik leleh dengan melihat adanya perubahan fasa padat menjadi
cair.
2. Kalibrasi
termometer dapat dilakukan dengan menggunakan es ataupun air yang didihkan.
3. Senyawa
murni memiliki titik leleh yang lebih kecil dibandingkan dengan senyawa yang
tidak murni. Dan hanya memiliki selisih yang sedikit dari titik leleh yang
semestinya.
4. Penentuan
titik leleh dapat dilakukan dengan alat yang sederhana dan dapat juga dengan
menggunakan alat MPA. Sampel yang digunakan yaitu Naftalen, Glukosa, β–Naftol,
Asam Benzoat, dan Maltosa.
XII.
DAFTAR PUSTAKA
Surono, dkk. 2016. Pengantar
Keamanaan Pangan Untuk Industri Pangan. Yogyakarta : Deeppublish.
Jamzuri.
2016. Pembuatan Sistem Akuisisi Data Pengukur Suhu Menggunakan Labview
Interface For Arduino (LIFA). Volume 6 Nomor 1 ISSN : 2089-6158.
Haryoto dan Priyatno. 2018. Potensi Buah Salak: Sebagai Suplemen Obat dan Pangan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Haryoto dan Priyatno. 2018. Potensi Buah Salak: Sebagai Suplemen Obat dan Pangan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Tim Kimia Organik 1. 2020. Penuntun
Kimia Organik 1. Jambi : Universitas Jambi.
XIII.
LAMPIRAN
Link vidio praktikum :
Lampiran gambar.





Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPerkenalkan saya septia misca Nim 005 saya akan menjawab soal no 1 yaitu karena titik leleh minyak itu lebih tinggi dibandingkan dgn air sehingga lebih mudah menggunakan minyaknya trimakasih
BalasHapusassalamualaikum wr.wb
BalasHapussaya ulul azmi NIM o68 akan menjawab pertanyaan no.3. Ketidaksamaan hasil pada pengukuran pada mpa dan manual bisa jadi dikarenakan ketidak telitian praktikan dalam praktikum atau dikarenakan faktor lingkungan sehingga mempengaruhi hasil,serta keakuratan alat yang digunakan saat pengukuran oleh praktikan. semoga membantu:)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
BalasHapusSaya Nisa Aprylina NIM A1C118044 akan menjawab pertanyaan no 2. Pada saat sampel yang di gunakan tidak bisa turun ke pipa kapiler, kita harus berusaha agar sampelnya bisa turun dengan cara mendorongnya dengan mengunakan jarum, mungkin dengan menggunakan tempat pulpen yang tidak dipakai lagi untuk menjatuhkan pipa kapilernya supaya terjatuh lurus kebawah hingga sampelnya juga ikut turun kebawah.
Sekian,semoga bermanfaat, terima kasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh