DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 2020
I.
Judul : Reaksi-reaksi Aldehid dan Keton
II.
Hari/ Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
III.
Tujuan : Ada pun tujuan dilakukannya praktikum ini
1. Dapat
memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil.
2. Dapat
memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton.
3. Dapat
menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid
dan keton.
IV.
Landasan Teori
Senyawa polar yang memiliki satu ikatan
karbonil dapat memungkinan adanya momen dipol, yang ada pada ikatan rangkap
karbon dan oksigen. Aldehid dan keton memiliki massa molekul yang hampir sam
dengan alkohol, tetapi memiliki titik didih yang lebih rendah. Hal ini
disebabkan karena keton dan aldehid tidak mempunyai ikatan hidrogen donor, yang
artinya tidak dapat mendonorkan proton. Hal ini dapat meyebabkan senyawa
karbonil seperti aldehid dan keton
memiliki titik didih yang tinggi. Pelarut
pada senyawa keton yang sering digunakan yaitu aseton, yang dapat larut dalam
air maupun pelarut organik.
Dikarenakan aldehid dan keton memiliki
hidrogen yang berikata dengan oksigen, hingga ikatan hidrogen tidak seperti
alkohol. Aldehid dan keton merupakan senyawa polar yang memiliki gaya tarik
menarik yang kuat diantara molekulnya, sama seperti magnet bagian yang positif
akan tertarik pada bagian yang bermuatan negatif (Fessenden, 1997).
Gugus pada aldehid dan keton merupakan
gugus yang sama C=O. hal ini dapat dibedakan dengan pada kedua senyawa tersebut
dengan menggunakan pereaksi yang sama dan melihat reaksi yang terjadi. Yang biasanya
aldehid lebih dapat bereaksi lebih cepat dibandingkan keton. Aldehid dapat
mengalami reaksi oksidasi sedangkan pada keton tidak, lalu aldehid dapat
membentuk asam karboksilat dengan jumlah yang sama banyaknya sedangkan pada
keton hanya menghasilkan dua asam karboksilat. Tetapi ada cara lain untuk
membedakan antara aldehid engan keton, yaitu perubahan kereaktifannya terhadap
oksidator (Tim Kimia Organik, 2020).
Menurut Wilbraham (2002), Pada aldehid
dan keton terjado reaksi-reaksi sepeerti reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Yang
membedakan reaksi pada aldehid dan keton ialah reaksi oksidasi. Aldehid mudah
mengalami oksidasi dengan oksidator yang lemah dan keton mudah mengalami osidator.
Untuk reaksi reduksi terdapat tiga reaksi yaitu reduksi menjadi alkol, reduksi
menjadi hidrokarbon, dan reduksi pinakol.
Untuk membedakan senyawa aldehid dan
keton, dapat dilakukkan beberapa uji, diantaranya seperti uji tollens, uji
fehling dan uji benedict. Yang paling sering dipakai untuk menguji perbedaan antara
senyawa aldehid dengan keton. Dimana aldehid lebih mudah untuk dioksidasi,
oksidasi dari aldehid akan menghasilkan asam karboksilat dengan jumlah yang
sama dengan atom karbonnya (Hart,1990)
V.
Alat dan Bahan
5.1
Alat
1.
Tabung reaksi 2.
Pipet tetes
3.
Penangas air 4.
Neraca
5.
Erlenmeyer 6.
Kertas saring
7.
Pengaduk 8.
Tabung reaksi besar
9.
Corong pisah 10. Corong
Hirsch
11.
Lemari es 12.
Corong buchner
13.
Gelas kimia
5.2
Bahan
1. Perak nitrat 5% 2.
Larutan NaOH 10%
3. Amonium hidroksida 2% 4.
Benzaldehid
5. Aseton 6.
Sikloheksanon
7. Formalin 8.
Natrium sitrat
9. Natrium karbonat 10. Aquades
11. 2,4-dinitrofenilhidrazin 12. Hidroksilamin
13. HCl 14.
NaOH 5%
15. Kalium iodida 16.
2-pentanon
17. CuSO4. 5H2O 18.
Natrium kalium tatrat
19. Garam rochelle 20.
Formaldehid
21. N-heptaldehid 22.
NaHSO3
23. Etanol 24.
HCl pekat
25. Fenilhidrazin 26.
Metanol
27. Natrium asetat trihidrat 28. Sikloheksanon-oksim
29. Iodium iodida 30.
Isopropanol
31. NaOH 1%
VI.
Prosedur Kerja
6.1 Uji Cermin Kaca, Tollens
1. Disiapkan 4 tabung reaksi
yang berisi pereaksi Tollens (cara membuat: Disiapkan satu tabung reaksi yang
bersih sekali, ke dalam 2 mL larutan nitrat perak 5% tambahkan 2 tetes larutan
NaOH 5%, lalu tambahkan tetes demi tetes sambil diaduk larutan amonium
hidroksida 2% hanya secukupnya agar larut, pengujian akan gagal jika terlalu
banyak amonia (ditambahkan).
2. Diuji bezaldehid, aseton,
sikloheksanon, dan formalin dengan jalan menambahkan masing-masing dua tetes
bahan tersebut ke dalam tabung uji.
3. Diaduklah campuran dan
didiamkan selama 10 menit. Bila reaksi tidak terjadi, panaskan tabung dalam
penangas air selama lima menit. Diamati apa yang terjadi.
6.2 Uji
Fehling dan Bennedict
1. Dimasukkan pereaksi
bennedict ke masing-masing ke dalam 4 tabung reaksi (cara membuatnya: larutan
173 gr natrium sitrat dan 100 gr natrium karbonat dalam 750 aquadest, diaduk,
disaring lalu ke dalam fitrat ditambahkan perlahan larutan 17,3 ge CuSO4.5H2O
dalam 100 mL air, diencerkan hingga volume total 1 L) atau 5 mL pereaksi
fehling yang masih fresh (cara membuat: larutan A=69 gr CuSO4. 5 H2O
dalam 1 L air suling).
Larutan
B= 346 gr natrium kalium tertat atau garam Rochelle di dalam larutan NaOH 10%,
artinya pereaksi fehling A dan B sama banyak.
2. Ke dalam masing-masing
tabung dimasukkan beberapa tetes bahan yang akan diuji.
3. Ditempatkan tabung reaksi
dalam air mendidih selama 10-15 menit. Diuji formaldehid, n-heptanaldehid,
aseton dan sikloheksanon.
6.3 Adisi
Bisulfit
1. Dimasukkan 5 mL NaHSO3
jenuh ke dalam erlenmeyer dan dinginkan larutan dalam es.
2. Ditambahkan 2,5 mL aseton
tetes demi tetes sambil diaduk. Setelah 5 menit ditambahkan 110 mL etanol untuk
memulai kristalisasi, lalu saring kristal dengan corong Hirsch. Amati kristal
dalam tabung reaksi jika ditambahkan beberapa tetes HCl pekat.
6.4
Pengujian dengan Fenilhidrazin
1. Dimasukkan 5 mL
fenilhidrazin ke dalam tabung, tambahkan 10 mL bahan yang akan diuji. Tutup
tabung reaksi dan guncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal.
2. Disaring kristal dengan
corong Hirsch, cuci dengan sedikit air dingin dan rekristalisasi dengan sdikit
metanol dan etanol.
3. Dikeringkan dan tentukan
titik lelehnya. Lakukan pengujian terhadap benzaldehid dan sikloheksanon.
4. Dengan cara yang sama,
gunakan 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan
sikloheksanon. Tentukan titik lelehnya.
6.5
Pembuatan Oksim
1. Dilarutkan 1 gr
hidroksilamin dan 1,5 gr natrium asetat trihidrat di dalam 4 ml air, di dalam
erlenmeyer 50 mL.
2. Dipanaskan larutan sampai
35, kemudia ditambahkan sikloheksanon tutup labu dan goncangkan selama 1-2
menit, pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk.
3. Dinginkan labu dalam lemari
es, saring kristal dengan corong Hirsch, cuci dengan 2 mL air es, keringkan dan
tentukan titik lelehnya.
6.6 Reaksi
Haloform
1. Dimasukkan 5 tetes aseton
dalam 3 mL larutanj NaOH 5%, tambahkan sekitar 10 mL larutan iodium iodida
(cara buatnya: larutkan 25 gr iodium di dalam larutan 50 gr kalium iodida dalam
200 mL air) sambil digoncang-goncangkan sampai warna coklat tidak hilang lagi.
Iodoform yang berwarna kuning akan mengendap dan baunya yang khas.
2. Dilakukan pengujian
terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.
6.7
Kondensasi Aldol
1. Ditambahkan 0,5 mL
asetaldehid ke dalam 4 mL larutan NaOH 1%, goncangkan dan catat bau khasnya
(sisa asetaldehid). Didihkan campuran reaksi selama 3 menit. Dicatat hati-hati
bau tengik dari krotonaldehid.
2. Disusun peralatan untuk
merefluks. Dalam labu 50 mL tempatkan etanol, 1 mL aseton, 2 mL benzaldehid,
dan 5 mL larutan NaOH 5%. Campuran direfluks selama 5 menit. Dinginkan labu dan
kumpulkan kristal dengan corong Bruchner. Bisa direkristalisasi dengan etanol.
Tentukan titik lelehnya.
link vidio :
Pertanyaan
1. Pada percobaan uji fehling, dialkukkan pemanasan pada sampel nasi dan juga roti. Apa tujuan dilakukannya pemanasan tersebut ?
2. Mengapa pada uji fehling, terdapat fehling A dan B. Apa yang membedakannya ?
3. Mengapa pada uji fehling keton tidak mengalami perubahan warna, sedangkan aldehid terjadi perubahan warna?




