JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
NAMA : DIANA SARI
NIM : A1C118096
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL,
M.Si.
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
PERCOBAAN 1
I. Judul : Analisis Kualitatif Unsur-unsur Zat
organik dan Penentuan Kelas Kelarutan
I II. Hari / Tanggal : Rabu / 29 Januari 2020
III. Tujuan : Adapun tujuan dari praktikum yang
dilakukan
1. Dapat mengetahui prinsip dasar dalam analisis
kualitatif dalam kimia organik.
2. Dapat memahami tahapan kerja analisis yang
dimulai dengan unsur karbon, hidrogen, belerang, nitrogen, halogen dalam suatu
senyawa organik dan penentuan kelas kelarutannya.
3.
Dapat mencoba senyawa unknow untuk dianalisis.
Analisis organik kualitatif merupakan analisis yang banyak digunakan dalam hal menentukan senyawa organik yang tidak diketahui. Tingkat keberhasilan dapat dipastikan dengan banyak faktor, seperti sifat pada senyawanya ataupun campuran serta teknik yang digunakan (Tim kimia organik 1, 2020)
Dalam kelangsungan
kehidupan makhluk hidup ada beberapa hal yang amat penting, seperti zat-zat
organik dan unsur-unsur penyusunnya. Fungsi zat organik dapat ditentukan dari banyaknya
unsur yang menyusun zat organik tersebut. Untuk mengetahui fungsi unsur pada
senyawa yang menyusunnya, maka perlu diketahui kandungan senyawa tersebut serta
penetapan kelarutan senyawa organik itu. Setelah diketahuai unsur penyusun dari
senyawa tersebut, maka dapat diperkirakan rumus empiris dan rumus molekulnya. Dengan
begitu dapat juga diperkirakan sifat kelarutan dari senyawa organik dengan
pelarut polar dan non polar. Untuk mengetahui kecenderungan senyawa itu dapat berinteraksi
dengan senyawa lain, yaitu dengan mengetahui perbedaan level kelaruatan
Unsur-unsur
penyusun bahan organik diantaranya ialah karbon, hidrogen, oksigen dan juga
terdapat unsur nitrogen, belerang, fosfor, dan besi. Unsur penyusun yang paling
penting pada bahan organik yaitu karbon dan juga unsur karbon banyak terdapat
pada semua makhluk hidup. Dan karbon merupakan sumber energi untuk makhluk
hidup seperti organisme (Effendi dalam Yusuf, 2014).
Kelarutan
yaitu suatu bentuk senyawa baik itu padat, gas, maupun cair yang larut dalam
padatan, gas, ataupun cairan yang nantinya akan membentuk sebuah larutan yang
homogen (Lachman dalam Yoga, 1986).
V. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan :
5. 1. Alat
- cawan porselen
- bunsen
- tabung reaksi pyrex
- kaki tiga
- pipa
- kawat tambang
- gelas kimia
- pipet tetes
- tabung reaksi besar
- tabung reaksi kecil
5.2. Bahan
1. asam asetat2. air suling
3. CaO
4. gula
5. sebuk CuO
6. CCl4
7. HNO3 encer
8. Larutan AgNO3
9. logam Na
10. kertas saring
11. FeSO4
12. Larutan NaOH
13. H2SO4 encer
14. eter
15. NaHCO3
16. larutan HCl
17. Larutan Na-nitroprospida
18. Larutan FeCl3
19. Larutan KF
20. Pb-asetat
21. Larutan Ca(OH)2
VI. Prosedur Kerja
6.1.1 Karbon dan Hidrogen
- Ditempatkan 1-2 gram serbuk CuO kering kedalam cawan porselen.
- DIkeringkan diatas pemanas busen.
- Dicampur larutan CuO hangat dengan gula.
- Dipindahkan pada tabung reaksi pyrex yang sudah dilengkapi sumbat dan pia pengalir gas.
- Disusun tabung agar gas dapat mengalir masuk kedalam tabung yang berisi 10 ml larutan Ca(OH)2. Dan dipanaskan.
- Dipperhatikan air yang mengembun pada bagian atas
- Dipanaskan kawat tembaga sampai kemerah-merahan.
- Didinginkan.
- Ditetesi kawat dengan 2 tetes CCl4.
- Dipijarkan kembali lalu diamati warna nyala.
- Ditempatkan tabung reaksi kecil (50 x 8 mm) dalam lubang kecil pada asbes sebagai pemegang.
- Dimasukkan sebiji logam Na.
- Dipanaskan hati-hati sampai meleleh dan uap Na bagian bawah tabung.
- Dihentikan nyala api.
- Ditambahkan hati-hati cuplikan yang mengandung Halogen, S dan N secepatnya.
- Dipijarkan kembali tabung sampai membara (usahakan zat didalam tabung tidak terbakar).
- Dimasukan tabung yang masih membara kedalam gelas kimia 100 mL yang berisi 15 mL air suling.
- Tabung akan segera pecah dan sedikit Na akan bereaksi dengan air.
- Dihancurkan bagian sisa tabung dalam gelas kimia ketika reaksi sudah tenang
- kembali.
- Dididihkan diatas api.
- Disaring dengan kertas saring biasa lalu gunakan larutan Lassaigne.
6.1.2 Halogen
a.Tes Beilsten
1. Dipanaskan kawat
tembaga sampai kemerah-merahan.
2. Didinginkan.
3. Ditetesi kawat dengan 2
tetes CCl4.
4. Dipijarkan kembali lalu
diamati warna nyala.
b. Tes CuO
- Dipanaskan CaO bebas halogen kedalam tabung reaksi besar sampai suhu tinggi
- Ditambahkan 2 tetes CCl4 ketika masih panas.
- Setelah dingin, di didihkan 5-10 mL air suling.
- Dituangkan kedalam gelas kimia 100 mL dan larutan HNO3 encer didalamnya (1 vol HNO3 pekat dalam 1 vol air suling).
- Jika tidak didapat larutan jernih, disaring dengan kertas saring biasa.Ditambahkan 2-3 mL larutan AgNO3 encer (5-10%).
- Diamati yang terjadi.
6.1.3
Metode Leburan dengan Natrium
a) Belerang
1.
Diasamkan 3 mL Larutan L dengan asam asetat.
2.
Dididihkan dan diperiksa gas yang dihasilkan dengan kertas saring basah
yang
sudah ditetesi Pb-asetat 10%.
3. Diamati
apa yang terjadi.
4. Pada Larutan
L lainnya ditambahkan 1-2 tetes larutan Na-nitroprosida.
5. Diamati
warna larutan yang terjadi.
b) Nitrogen
1.
Dimasukkan 3 mL Larutan L kedalam gelas kimia.
2.
Ditambahkan 5 tetes larutan FeSO4 yang baru, 1 tetes larutan FeCl3 dan
5 tetes
larutan KF 10%.
3. Ditambahkan
lebih kurang 1-2 mL larutan NaOH 10% sampai bersifat basa.
4. Dididihkan.
5. Jika
belerang tidak ada, Didinginkan dan diasamkan dengan asam sulfat encer
(20-25%).
6.
Jika belerang ada, Ditambahkan pada Larutan L, 5 mL tetes FeSO4 yang
masih baru, 1-2 mL larutan NaOH 105 sampai basa. Dipanaskan sampai mendidih.
7. Disaring endapan FeS. Diasamkan dengan larutan H2SO4 encer (10-20%).
8. Ditambahkan 5 tetes larutan KF 10% dan 1 tetes larutan FeCl3 untuk
mendapatkan
endapan biru.
c) Halogen
1. Diasamkan
3 mL Larutan L.
2. Ditambahkan
larutan HNO3 encer (1 vol HNO3 pekat dalam 1 vol air).
3.
Jika N dan S ada, di didihkan hati-hati 5-10 menit untuk menghilangkan
HCN atau
H2S yang mungkin terbentuk.
4. Ditambahkan
5 mL larutan AgNO3 encer (5-10%).
5. Dilanjutkan
pendidihan beberapa menit.
6.2
Penentuan Kelas Kelarutan
6.2.1 Kelarutan dalam air
1.
Dimasukkan lebih kurang 0,1 gram zat padat atau 3 tetes zat cair kedalam
tabung
reaksi besar.
2. Ditambahkan
3 mL air suling.
3. Dikocok
kuat-kuat.
4. Bila
hasil kelarutan (+) lakukan tes kelarutan dalam eter.
5. Bila
hasil kelarutan (-) lanjutkan tes dengan pelarut lainnya.
6.2.2
Kelarutan dalam eter
1.
Dilakukan hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 dengan menambahkan 3 mL
pelarut eter.
2.
Bila hasilnya jernih artinya (+) larut dalam eter dan sebaliknya.
6.2.3 Kelarutan dalam NaOH 5%
1. Dilakukan
hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 dengan menambahkan 3 mL
NaOH 5%.
2.
Bila jernih berarti (+) dan Bila keruh berarti (-).
3.
Jika terjadi keraguan, disaring campuran tadi dan filtratnya dinetralkan dengan
HCl
encer.
4. Jika
keruh (+), maka lanjutkan dengan NaHCO3.
6.2.4
Kelarutan dalam NaHCO3
1. Dilakukan hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 dengan menambahkan 3 mL
larutan
NaHCO3 5%.
2. Bila
timbul gas CO2 hasilnya (+) dan sebaliknya.
6.2.5
Kelarutan dalam HCl
1. Dilakukan
hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 ditambahkan HCl 5%.
2. Dikocok
dan diamati.
3. Bila
jernih (+).
4.
Jika meragukan campuran tersebut disaring dan filtratnya dinetralkan dengan
larutan NaOH encer.
5. Bila
larutan menjadi keruh hasilnya (+).
6.2.6 Kelarutan dalam H2SO4
1.
Dilakukan hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 ditambahkan 3 mL H2SO4 pekat.
2.
Dikocok dengan hati-hati.
3.
Bila jernih atau timbul panas atau perubahan warna (+).
6.2.7
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
1.
Dilakukan hal yang sama dengan percobaan 6.2.1 dengan menambahkan asam
sulfat
pekat.
2.
Jika jernih artinya (+).
3. Dibuat tabel atau diagram hasil pengamatan kelarutan dan ambil.kesimpulan.
link vidio praktikum :
Permasalahan :
- Mengapa pada vidio tabung reaksi yang digunakan harus dipecahkan?
- Mengapa pada percobaan nitrogen dibutuhkan ekstrak lassaigne, dan apa fungsi dari ekstrak lassaigne?
- Apa yang menyebabkan pada percobaan sodiu., larutan berubah menjadi berwarna ungu?
