JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
NAMA : DIANA SARI
NIM : A1C118096
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul
: Kalibrasi Termometer Dan Penetuan Titik Leleh
II. Hari/Tanggal
: Rabu, 12 Februari 2020
III. Tujuan
:
Adapun
tujuan dilakukannya praktikum ini :
1. Dapat
mengetahui prinsip-prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni.
2. Dapat
melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh
suatu senyawa murni.
3. Dapat
membedakan titik leleh suatu senyawa murni dengan senyawa yang tidak murni
4. Dapat
melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai
sampel.
IV. Landasan
Teori
Menutur Farhan dalam Jamzuri
(2016), sebagai alat ukur suhu yaitu termometer, sangat dibutuhkan dalam ilmu
pengetahuan, khususnya dalam percobaan ataupun eksperimen. Ada berbagai macam
termometer salah satunya yaitu analog, ditemukannya termometer digital yang
mana suatu kondisi yang diterjemahkan oleh rangkaian elektronik yang kemudian
ditampilkan sehingga mudah untuk dibaca dan juga dipahami.
Sebagai salah satu alat ukur yang penting untuk penentuan suatu titik kritis yaitu termometer. Banyak dari industri makanan yang umumnya pada industri kecil menengah menggunakan termometer sebagai pengukur suhu. Terlebih lagi termometer itu lebih murah dan mudah untuk dikalibrasi, dengan menggunakan air es ataupun air yang mendidih (Surono, 2018).
Sebagai salah satu alat ukur yang penting untuk penentuan suatu titik kritis yaitu termometer. Banyak dari industri makanan yang umumnya pada industri kecil menengah menggunakan termometer sebagai pengukur suhu. Terlebih lagi termometer itu lebih murah dan mudah untuk dikalibrasi, dengan menggunakan air es ataupun air yang mendidih (Surono, 2018).
Termometer merupakan
alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu kondisi apapun. Sebelum digunakan
dalam menentukan suatu kondisi derajad kandisi tersebut, perlu diamati terlebih
dahulu ketepatan dalam pengukuran. Maka diperlukan pengkalibrasian terlebih
dahulu serta pemeriksaan keadaan dari termometer tersebut, apakah masih layak
diguakan atau tidak. Perlu diketahui bagaimana cara menghindari kerusakan
termometer dengan cara menyimpan dan menggunakannya dengan hati-hati.
Perubahan fasa suatu
zat dari padat menjadi gas, padat menjadi cair, merupakan gambaran dari titik
leleh. Semakin kecil suhu yang digunakan untuk melelehkan, maka kemurnian dari
suatu zat tersebut besar.
Zat padat memiliki
banyak molekul berbentuk kisi-kisi teratur serta terikat dengan gaya gravitasi
dan elektrostatik. Jika dipanaskan moleku yang
terkandung dalam zat tersebut akan naik, disebabkan adanya energi
kinetik. Sehingga molekul akan bergerak dalam kondisi tertentu dan ikatan garvitasi
akan lepas dan zat tersebut akan meleleh (tim kimia organik 1, 2020).
Untuk menentukan titik leleh suatu
senyawa murni, dapat dilakukan yaitu dengan pelelehan sedikit, perubahan padat
menjadi cair, hingga seluruh zat kristalnya leleh. Kemurnian suatu senyawa
dapat diketahui dengan menentukan titik leleh senyawa tersebut. Senyawa murni
memiliki lintasan titik leleh yang kecil yaitu 2 derajad atau bahkan lebih
kecil lagi (Haryoto, 2018).
V. Alat
dan Bahan
5.1
Alat
Alat
yang digunakan :
1. Labu
erlenmeyer
2. Termometer
3. Bunsen
4. Kaki
tiga
5. Pipa
kapiler
6. Benang
7. Gelas
kimia
5.2
Bahan
Bahan
yang digunakan :
1. Bubuk
es
2. Aquades
3. Gabus
4. Minyak
5. Naftalen
6. Glukosa
7. Alpha-naftol
8. Asam
benzoat
9. Maltosa
VI. Prosedur
Kerja
6.1
Kalibrasi Termometer
a) Dibuat
campuranbubuk es dan air dalam labu erlenmeyer 250 ml sehingga 2/5 bagian
volumenya terisi.
b) Dimasukkan
termometer hingga ujungnya menyentuh campuran es+air.
c) Disumbat
mulut labu erlenmeyer dengan gabus, sehingga campuran tersebut terisolasi dari
udara.
d) Dicatat
batas bawah skala ternometer tersebut.
e) Diangkat
termometer dan diulangi prosedur a-c tersebut.
f) Dirancang
kembali alat dengan mengisi 2/5 bagian erlenmeyer dengan aquades.
g) Dimasukkan
termometer hingga tepat 1 cm diatas permukaan air.
h) Disumbat
dan diusahakan termometer berada pada posisi tegak/ vertikal
i) Dilakukan
pemanasan dan dicata suhu saat air mulai mendidih dan susu tidak naik-naik
j) Diulangi
prosedu c-g sekali lagi.
6.2 Penentuan
titik leleh
a) Diambil
pipa gelas kapiler, lalu dibakar ujung sehingga tertutup.
b) Dimasukkan
sampel zat murni atau campuran dari ujung lainnya.
c) Lalu
dipadatkan dengan bantuan stick yang berl;obang tengahnya. (tinggi sampel dalam
pipa tidak lebih dari 2 cm).
d) Diikatkan
pipa kapiler yang berisi sampel dengan termometer menggunakan benang (bagian
ujung bawah termometer).
e) Dimasukkan
alat tersebut kedalam erlenmeyer yang telah terisi air atau minyak (tergantung
tinggi TL zat tersebut) dengan mengisi 2/3 erlenmeyer dan sumbat dengan gabus
mulut erlenmeyer.
f) Dipanaskan
perangkat alat ini secara perlahan dan dicatat suhu saat tepat zat meleleh
hingga semua zat meleleh.
g) Dilakukan
prosedur a-e sebanyak dua kali untu tiap sampel yang diberikan.Sampel murni
terdiri dari dari naftalen, glukosa, alpha-naftol, asam benzoat dan maltosa.
h) Ditentukan
titik leleh campuran dua senyawa dengan proporsi 1:!, 1:3, 3: dengan cara sama.
i) Digambarkan
titik autentikyang diperoleh.
Hati-hati: pilih
oil bath atau water bath sebagai pemanas sesuaidengan TL zat dan dilakukan
pemanasan perlahan serta berilah rongga udara yang cukup pada saat menyumbat
mulut erlenmeyer agar jangan terjadi loncatan tutup gabus yang digunakan.
6.3 Demonstrasi
titik leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)
a) Digunakan
alat khusus penentuan titik leleh dengan sumber panasnya listrik dan skala suhu
ditunjukkan oleh sinyal digital.
b) Ditempatkan
sampel yang akan ditentukan pada pipa gelas kapiler setebal lebih kurang 2 mm.
c) Ditempatkana
alat pipa kapiler pada bagian atas. Terdapat tiga lubang yang diameternya 3 mm,
lubang tengah untuk pipa kapiler yang berisi sampel dan dua lubang lain diisi
dengan pipa kapiler kosong (blanko).
d) Dihubungkan
alat denga tombol listrik dan on-kan.
e) Diatur
variabel suhu dengan tombol agar naik secara konstan dengan kecepatan tertentu.
f) Dilakukan
pengamatan dari lubang kecil disisi depan alat ini.
g) Diperhatikan
variabel suhu saat zat mulai meleleh
Link vidio praktikum
Permasalahan
- Mengapa pada saat pengujian titik leleh, sampel harus berada pada bagian tertutup dari pipa kapiler?
- Apa yang terjadi apabila bagian pipa kapiler terdapat udara didalamnya?
- Mengapa pada saat pengkalibrasian termometer itu menggunakan es dan air yang mendidih ?

Saya lisna wiranti dengan nim A1C118001 akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3.suatu cairan murni (air) akan mendidih pada tekanan 1 atm pada suhu 100 derajat celcius dan membeku pada suhu 0 derajat celcius. Jika termometer masih baik di gunakan maka akan menunjukan derajat yang tepat pada saat dites pada air panas dan es batu. Terimakasih.
BalasHapusAssalamualaikum, hai diana, saya Cici Indah Septiana NIM A1C118069 kelas reguler A 2018 akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2, udara yang masuk kedalam pipa kapiler akan mempengaruhi suhu yg terdapat dalam pipa yg berisi sampel, pada pengujian ini hasil suhu akan sangat menentukan proses pelelehan, terima kasih
BalasHapusAssalamualaikum wr wb.
BalasHapusSaya Fadillah Fatma dengan NIM A1C118092 ingin membantu menjawab permasalahan nomor 1 mengenai mengapa suatu sampel harus berada pada bagian bawah pipa kapiler. Menurut saya hal tersebut dilakukan untuk mencegah kesalahan hasil pengamatan. Jika praktikan tidak melakukan tapping supaya sampel turun kedasar pipa kapiler yang tertutup, maka akan terdapat jarak antar partikel sampel yang diisi oleh udara dan jika hal itu terjadi, maka suhu yang dihasilkan pun akan salah. Sekian, terima kasih.