LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
NAMA : DIANA SARI
NIM : A1C118096
DOSEN PENGAMPU
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
VII. Data
Pengamatan
a. Rekristalisasi
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Dipanaskan 50ml air suling
|
Terbentuk gelembung-gelembung gas
|
Ditambahkan 0,5 gram asam benzoat yang sudah
dicemari karbon aktif + glukosan dan dicairkan dengan air panas.
|
Larutan menjadi warna hitam
|
Disaring dengan kertas saring
|
Warna larutan setelah disaring jernih
|
Didinginkan larutan dengan menggunakan air es
|
Terbentuk Kristal putih mengkilap
|
Diuji titik lelehnya
|
Suhunya 100,3oC
|
b. Sublimasi
Perlakuan
|
Pengamatan
|
Dimasukkan 1-2 gr naftalen kecawan penguap yang
dicampur dengan pasir. Tutup dengan kertas saring yang telah dibuat lubang
kecil
|
Zat tidak murni, sebab telah tercemar oleh pasir.
|
Sumbat corong dengan gelas wool atau kapas dan
dipanaskan.
|
Terdapat uap yang keluar, dan tercium bau naftalen. dan terdapat kristal.
|
Diuji kemurnian zat
|
Didapatkan titik lelehnya 92ᴼC.
|
VIII. Pembahasan
Untuk melakukan pemurnian suatu zat,
perlu diketahui sifat fisik maupun sifat kimia zat yang akan dimurnikan
tersebut. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui cara yang sesuai untuk
melakukan permunian dari zat itu. Jika pemurnian berhasil, maka perlu diuji
kembali kemurnian zat tersebut, untuk menguji kemurnian suatu zat dapat
dilakukkan dengan mengetahui titik leleh zat tersebut (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/).
A. Rekristalisasi
Pada percobaan
rekristalisasi, zat yang digunakan yaitu asam benzoat yang diberi karbon aktif
(arang) dan glukosa sebagai zat pengotor. Setelah dicampur, dilarutkan zat tadi
dengan menggunakan air yang sudah dipanaskan. Pelarut yang digunakan haruslah
memiliki titik didih yang lebih rendah dibandingkan dengan zat yanga akan
dimurnikan, agar pada saat pengujian titik leleh tidak mengganggu zat yang akan
diuji kemurniannya. Selagi masih panas, larutan tadi disaring dengan
menggunakan kertas saring. Lautan yang awalnya tadi berwarna hitam berubah
menjadi jernih pada filtrat hasil penyaringan. Larutan hitam disebabkan adanya
karbon aktif yang terkandung dalam asam benzoat tersebut. Hasil dari
penyaringan tadi didinginkan dengan menggunakan batu es, lalu disaring kembali
dengan menggunkan kertas saring, dan dikeringkan. Didapatkan kristal yang mengkilap. Setelah proses pemurnian
dilakukan, maka perlu dilakukannya uji kemurnian suatu zat dengan melihat titik
leleh asam benzoat tersebut, dengan menggunakan MPA. Setelah dilakukan
pengujian titik leleh, hasil yang didapatkan yaitu 100,3ᴼC. Berdasarkan sumber
yang dibaca, asam benzoat memiliki titik leleh 122,3ᴼC. Hasil yang didapatkan
tidak sepenuhnya asam benzoat tersebut murni .
B. Sublimasi
Pada percobaan ini, zat yang akan dimurnikan yaitu naftalen, sedangkan yang digunakan sebagai zt pengotor yaitu pasir dengan perbandingan 1:1. Naftalen yang sudah diberi zat pencemar diletakkan pada cawan penguap. Pada bagian cawan penguap diberi kertas saring yang sudah diberi sedikit lobang. Diletakkan corong pada bagian atas kertas saring yang sudah diberi gelas wool. Pada saat pengambilan gelas wool harus dilakukkan secara hati-hati, dikarenakan gelas wool yang tajam. Dilakukkan pemanasan pada cawan penguap yang sudah berisi zat tadi dan diamkan selama 5 menit hingga terbentuk kristalan pada bagian pinggir corong. Pada saat proses pemanasan berlangsung, tercium bau naftalen. Pengujian selanjutnya yaitu uji kemurnian dengan uji titik leleh dengan menggunaka MPA. Titik leleh yang didapatkan yaitu 92ᴼC. Berdasarkan sumber yang dibaca, naftalen memiliki titik leleh 80,26ᴼC.
Pada percobaan ini, zat yang akan dimurnikan yaitu naftalen, sedangkan yang digunakan sebagai zt pengotor yaitu pasir dengan perbandingan 1:1. Naftalen yang sudah diberi zat pencemar diletakkan pada cawan penguap. Pada bagian cawan penguap diberi kertas saring yang sudah diberi sedikit lobang. Diletakkan corong pada bagian atas kertas saring yang sudah diberi gelas wool. Pada saat pengambilan gelas wool harus dilakukkan secara hati-hati, dikarenakan gelas wool yang tajam. Dilakukkan pemanasan pada cawan penguap yang sudah berisi zat tadi dan diamkan selama 5 menit hingga terbentuk kristalan pada bagian pinggir corong. Pada saat proses pemanasan berlangsung, tercium bau naftalen. Pengujian selanjutnya yaitu uji kemurnian dengan uji titik leleh dengan menggunaka MPA. Titik leleh yang didapatkan yaitu 92ᴼC. Berdasarkan sumber yang dibaca, naftalen memiliki titik leleh 80,26ᴼC.
IX. Pertanyaan
pasca pratikum
1. Apa
yang menyebabkan titik leleh setelah pemurnian pada asam benzoat berbeda dengan
titik leleh dari asam benzoat yang sebenarnya?
2. Selain
untuk mendinginkan proses pada saat pengkristalan, apa kegunaan batu es pada
percobaan ini?
3. Pada
percobaan sublimasi zat pengotor yang digunakan ialah pasir. Apakah perbedaan zat
pengotor yang digunakan mempengaruhi kemurnian suatu zat?
X. Manfaat
1. Praktikan dapat memisahkan serta memurnikan zat yang tercemar.
2. Dapat mengetahui bagaimana cara pengkristalan dari zat yang dimurnikan.
3. Dapat menjernihkan larutan yang awalnya keruh untuk diuji kemurniannya.
1. Praktikan dapat memisahkan serta memurnikan zat yang tercemar.
2. Dapat mengetahui bagaimana cara pengkristalan dari zat yang dimurnikan.
3. Dapat menjernihkan larutan yang awalnya keruh untuk diuji kemurniannya.
XI. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari percobaan ini :
1. Pengkristalan
dapat dilakukkan dengan mengambil filtrat dan mengeringkannya dengan hati-hati.
2. Pelarut
yang digunakan untuk pemurnian suatu zat haruslah memiliki titik didih yang
lebih rendah dari pada zat yang akan diuji.
3. Penjernihan
larutan dapat dilakukan dengan menyaring larutan dengan menggunakan kertas
saring.
4. Pemisahan
dan memurnikan larutan yang dicemari harus dilarutkan dahulu, kemudian disaring
dan dikeringkan hingga terbentuk kristal dari zat yang dimurnikan.
XII. Daftar
Pustaka
Pinalia, Anita. 2007. Penentuan metode rekristalisasi yang tepat untuk meningkatkan kemurnian kristal amonium perklorat (AP). Lapan: pusat teknologi roket.
Tim
Kimia Organik 1.2020.penuntun praktikum kimia organik 1. Jambi: Unja
Oxtoby,
David.dkk. 2001.prinsip-prinsip kimia modern. Jakarta: Erlangga.
Ruslan, dkk.2017. peningkatan kualitas
garam menjadi garam industri di desa sanolo kecamatan bolo kabupaten bima.
Jambi: Unja. Pinalia, Anita. 2007. Penentuan metode rekristalisasi yang tepat untuk meningkatkan kemurnian kristal amonium perklorat (AP). Lapan: pusat teknologi roket.
XIII. Lampiran
Link
vidio:






asslamualaikum wr, wb
BalasHapussaya ulul azmi nim 068 akan mencoba menjawab no 1.yang menyebabkan titik leleh setelah pemurnian pada asam benzoat berbeda dengan titik leleh dari asam benzoat yang sebenarnya yaitu kesalahan dari faktor2 yg menyebabkan titik leleh tidak sesuai literatur dimana hal tersebut terjadi dan mempengaruhi hasil.faktor terbut seperti kesalahan praktikan pada saat membaca suhu dan keadaan zat yg bereaksi. terimakasih semoga membantu :)
Perkenalkan nama saya TRIXIE FEDORA IMA GULO NIM A1C118077. Akan menjawab pertanyaan anda nomor 3. Ya, tentu saja, terkadang ada zat pengotor yang susah dipisahkan dari senyawa murni, dan untuk mendapat senyawa murni zat tersebut dapat dilakukan selain dengan cara sublimasi. Semua pemurnian zat padat dilakukan sesuai tahapan dan pemisahan yang cocok. Terima kasih. Semoga membantu :)
BalasHapusAssalamualaiku, hai Diana. Saya Cici Indah Septiana (A1C118069) akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 2. Dalam hal itu, es batu berfungsi sebagai penyerap kalor dari sampel sehingga terjadinya proses rekristalisasi. Terima Kasih
BalasHapus